Makin ribet aja pemilu sekarang. Ga tau d, mungkin karena aku sudah terbiasa dengan sistem pemilu "jadul" yang sangat simple, jadi sekarang aku kelimpungan dengan sistem pemilu yang ada. Kelimpungan ini bertambah setelah membaca tajuk utama Media Indonesia hari ini "mewakili rakyat dari kubur".
Tajuk utama yang benar2 menggelitik. Pertama melihatnya, aku benar2 tidak punya ide apa isi berita, ternyata setelah membacanya barulah aku ngeh..."ooo, ternyata ini toh beritanya".
Benar juga berita tersebut, bagaimana bisa nama seseorang yang sudah meninggal tetap dicantumkan agar dipilih rakyat, adapun orang2nya adalah Sutradara Ginting (PDIP, Banten III) dan Henry Usman (PD, Kalimantan Barat) telah meninggal pada Maret sebelum pemilu dilaksanakan. Untuk hal ini, KPU mempunyai alasan yang masih dapat ditolerir yaitu KPU tidak diberi tahu bahwa sang calon sudah meninggal sebelum pemilu sehingga namanya tidak sempat dicoret dari surat suara. Akan tetapi, bagaimana bisa KPU melakukan kesalahan untuk kedua kalinya dengan menetapkan orang yang sudah meninggal itu sebagai calon terpilih. Untuk hal ini, tidak ada alasan yang bisa ditolerir.
Entahlah, aku makin jengah dengan urusan politik dalam negeri sekarang...makin jengah. Pada awalnya, aku sebagai generasi muda Indonesia tidak antipati dengan perkembangan politik Indonesia, masih berharap terhadap politikus2 Indonesia, akan tetapi seiring dengan berkembangnya zaman sikap tidak antipati itu berubah menjadi sangat antipati.
Aku tidak habis pikir, kenapa di akhir zaman ini orang masih memikirkan kekuasaan?kenapa di usia yang sudah renta ataupun usia yang sedang berkembang ini tidak diisi dengan hal2 yang bermanfaat?kenapa haus kekuasaan?kenapa kita tidak berusaha mengharumkan nama Indonesia dengan cara yang lebih positif dan halal serta intelek?
Coba lihat sisi lain, masih banyak anak2 Indonesia yang mempunyai intelektualitas yang tinggi yang belum terdeteksi. Contoh Nelson Tansu, dia adalah orang Indonesia yang menjadi professor termuda USA di umur 26 dan dia bangga menyebut dirinya sebagai orang Indonesia.
Kenapa harus berlomba2 untuk mencari kekuasaan? toh, kekuasaan itu tidak akan dibawa mati, tidak akan dibawa ke akhirat. Malah yang kita dapatkan dari kekuasaan itu hanyalah musuh, dendam, sumpah serapah, dan hal2 negatif lainnya.
Ini hanyalah buah pikir dari seseorang yang awam politik dan seseorang yang sangat berharap besar akan perubahan negara Indonesia ini.
Tolong para elite politik disana, janganlah mengecewakan kami sebagai rakyat yang menumpukan harapan pada kalian. Kami sudah kenyang dengan janji2 kalian, kami ingin bukti, kami ingin pelaksanaanny, tolong ingat kami, karena kami lah yang akan menentukan kalian bisa duduk senang di ruangan DPR/DPRD/DPD.
Oleh karena itu, bagaimana bisa kepentingan kami ini diwakili oleh orang yang sudah meninggal?
:)
Cobalah untuk mengerti kami...
Regards&Peace
Kartika Paundri
No comments:
Post a Comment